Senin, 03 November 2014

Identifikasi Diferensiasi & Stratifikasi Sosial pada Desa Jatimalang




Nama  :Adinda Nurjannah Santoso
NIM    : 145040100111112
Kelas   : C
Fakultas: Pertanian
Jurusan : Sosial Ekonomi Pertanian
Universitas Brawijaya Malang


Modul 6
1.      Identifikasi & jelaskan situasi kondisi umum desa tersebut, meliputi data dan informasi yang ada pada jurnal acuan  
Desa Jatimalang berada di wilayah Kecamatan Purwodadi Kabupaten Purworejo. Desa Jatimalang terdiri atas 4 dusun, yaitu Dusun Krajan I, Dusun Krajan II, Dusun Patalan, dan Dusun Pathuk. Desa Jatimalang termasuk desa pantai dengan suhu udara rata-rata 36o C. Luas Desa Jatimalang sekitar 150,098 ha, dengan pembagian sebagai berikut:
Tabel 1. Luas lahan menurut peruntukannya di Desa Jatimalang tahun 2003
Jenis Peruntukan Lahan Luas Lahan (ha)
Persentase (%)
Sawah tadah hujan
51,745 34,5
Pekarangan dan pemukiman
49,353 32,9
Tempat rekreasi pantai
23,000 15,3
Tambak
18,000 12,0
Tegalan
6,000 4,0
Kuburan
2,000 1,3
Jumlah
150,098 100,0
Dari tabel tersebut dapat diidentifikasi bahwa presentase penggunaan lahan di Desa Jatimalang paling banyak digunakan untuk tanah pertanian, yaitu untuk sawah tadah hujan. Tanah pertanian juga mencakup sebagian dari  tanah pekarangan, tetapi tidak tersedia data yang pasti tentang luas pekarangan yang digunakan untuk usaha pertanian. Tanah pertanian pekarangan ditanami dengan pohon buah-buahan dan pohon yang diambil buahnya untuk dibuat bahan makanan. Tanah pekarangan juga digunakan penduduk sebagi sumber pendapatan, yaitu melalui kegiatan nderes (mengambil air nira pohon kelapa untuk dibuat gula jawa), sehingga tanaman pekarangan ini mempunyai nilai ekonomis penting bagi penduduk.
Penduduk Desa Jatimalang berjumlah 1253 orang terdiri dari 582 laki- laki (46,4 %) dan 671 perempuan (53,6 %). Jumlah Kepala Keluarga (KK) ada 295, terdiri dari 287 keluarga yang KK-nya laki-laki dan 8 KK perempuan. Penduduk Desa Jatimalang rata-rata telah menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar (SD), yaitu sebanyak 499 orang (69,1 %). Lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebanyak 113 orang (15,6 %), lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) sebanyak 102 orang (14,1 %), lulusan Akademi 1 orang (0,2 %), dan lulusan Sarjana sebanyak 7 orang (1 %).
Mata pencaharian penduduk Desa Jatimalang cukup beragam. Namun, mayoritas penduduk bermatapencaharian sebagai petani. Berikut tabel yang memuat keadaan mata pendahariaan Desa Jatimalang.
Tabel 2. Keadaan penduduk Desa Jatimalang menurut mata pencaharian
Mata pencaharian
Jumlah (orang)
Persentase (%)
Tani
658
70,8
Nelayan
95
10,2
Karyawan swasta
93
10,0
Buruh tani
32
3,4
Pertukangan
27
2,9
TNI/ABRI
9
1,0
PNS
7
0,8
Wiraswasta
6
0,6
Pensiunan
2
0,2
Jasa
1
0,1
Jumlah
930
100,0
Sumber : Monografi Desa Jatimalang, 2003
Tabel tersebut menunjukkan bahwa sektor pertanian menjadi tumpuan di desa ini. Sebagian besar penduduk bekerja sebagai petani, karena memang lahan di desa ini adalah sawah tadah hujan dan pekarangan. Selain itu, di Desa Jatimalang juga terdapat sektor perikanan, yang terdiri dari perikanan darat dan perikanan laut. Perikanan darat meliputi penangkapan ikan di sungai dan budidaya tambak. Perikanan laut meliputi penangkapan ikan di pesisir pantai dan laut.
Penduduk Desa Jatimalang masih mempolakan hubungan berdasarkan ikatan ketetanggaan, kekerabatan, dan keagamaan. penduduk Desa Jatimalang masih menganut pola masyarakat komunal, yaitu kesatuan masyarakat yang relatif kecil dan homogen ditandai oleh pembagian kerja yang minimal dan masih terikat kuat kepada tradisi. Dua golongan sosial utama yang dikenal pada masyarakat komunal adalah tokoh terkemuka dan penduduk biasa. Tokoh terkemuka di Desa Jatimalang mencakup pemuka agama, pejabat desa, tokoh terpelajar, dan orang kaya. Kerja sama dalam hubungan komunal di Desa Jatimalang diwujudkan dalam sistem sambatan, sumbangan, dan pirukunan. Sambatan adalah tolong-menolong dalam bentuk pengerahan tenaga manusia untuk membantu menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, seperti pembangunan rumah, pesta perkawinan, penguburan jenazah, dan kenduri atau slametan. Sumbangan adalah tolong-menolong dalam bentuk pemberian barang atau uang untuk biaya penyelesaian pekerjaan rumah tangga, seperti penyelenggaraan pesta perkawinan dan upacara kematian. Pirukunan adalah perkumpulan yang bertujuan untuk saling membantu dalam penyediaan pemenuhan konsumsi rumah tangga, seperti pesta perkawinan dan pembangunan rumah dengan menerapkan prinsip pertukaran yang sepadan. Berbagai upacara keagamaan juga diselenggarakan di Desa Jatimalang yang didasarkan atas tradisi Islam setempat, seperti tahlilan, kenduren, ruwahan, dan pengajian. tahlilan adalah upacara agama yang berintikan pembacaan tahlil (bacaan suci yang bertema pengakuan terhadap Keesaan Tuhan) dalam rangka mendoakan arwah leluhur. Kenduren adalah upacara agama yang berintikan pembacaan doa keselamatan dan pembagian makanan berupa nasi dan laukpauk. Ruwahan merupakan kegiatan seperti kenduren yang diadakan setiap tahun pada bulan ruwah menurut tahun Jawa Islam dengan maksud mendoakan keselamatan leluhur dalam menjalani hidup di alam akhirat.
2.       Sebutkan dan jelaskan faktor-faktor yang menjadi penyebab terjadinya diferensiasi dan stratifikasi sosial pada daerah tersebut!
Stratifikasi sosial nelayan di Desa Jatimalang didasarkan oleh beberapa hal, yaitu:
·         Berdasarkan Penguasaan Alat Produksi Penangkapan Ikan
Penguasaan dalam hal ini berbentuk kekuasaan formal atau kekuasaan efektif. Contoh kekuasaan ini adalah apabila sebidang tanah disewakan kepada seseorang, maka orang itu yang efektif menguasainya. Hal ini menimbulkan adanya pembagian kekuasan dalam hal penguasaan alat produksi, yaitu juragan dan buruh. Nelayan yang menguasai alat produksi penangkapan ikan secara formal umumnya disebut sebagai “juragan”, sedangkan nelayan yang bekerja pada nelayan juragan disebut sebagai “buruh”. Nelayan juragan tidak dituntut memiliki kemampuan dalam proses produksi penangkapan ikan, sedangkan nelayan buruh harus mempunyai kemampuan dalam proses produksi penangkapan ikan. Nelayan yang menduduki posisi sebagai seorang tekong harus mempunyai kemampuan dan keterampilan dalam mengemudikan perahu.
·         Berdasarkan penguasaan alat produksi pertanian, perikanan budidaya, dan peternakan
Adanya ragam pekerjaan nelayan, yaitu nelayan penguasa (nelayan juragan) yang menguasai lahan warisan, nelayan tekong dan ABK yang tidak menguasai lahan persawahan rata-rata merupakan nelayan muda yang belum atau sudah berkeluarga tetapi belum memiliki tempat tinggal sendiri dan masih
menumpang di rumah orang tua atau saudara, dan nelayan jaring eret dan sungai yang menduduki peringkat pertama dalam hal penguasaan lahan.
Direfensiasi sosial di Desa Jatimalang disebabkan oleh adanya perbedaan tingkat usia. Mayoritas nelayan yang menangkap menggunakan PMT berusia antara 19-30 tahun, sedangkan nelayan sungai dan jaring eret mayoritas merupakan nelayan yang berusia di atas 30 tahun.
3.      Jelaskan pandangan dan kesimpulanmu mengenai dampak stratifikasi dan diferensiasi sosial yang terjadi pada daerah tersebut!
Hubungan antar lapisan sosial nelayan di Desa Jatimalang tidak berjarak dan tidak menimbulkan permusuhan di antara nelayan. Semua nelayan sama sekali tidak merasa keberatan untuk menerima dan bekerja sama dengan nelayan yang berasal dari lapisan yang berbeda. Hubungan sosial ini terwujud dalam kehidupan berkeluarga, bertetangga, dan berteman. Kelompok strata yang berbeda juga tinggal dalam lingkungan kompleks yang berdekatan. 

Modul 7
1.      Deskripsi kegiatan ekonomi dan kedudukan sosial yang ada pada daerah tersebut!
Perekonomian di Desa Jatimalang yang paling banyak adalah di sektor pertanian dan  perikanan. Lahan di desa ini banyak digunakan sebagai sawah tadah hujan, dan pekarangan milik warga juga ditanami tanaman untuk dijual. Sehingga sangat terlihat bahwa di desa ini, sektor pertnanian sangat berperan. Selain itu, sektor perikanan juga sangat berperan. Penduduk desa banyak yang bekerja sebagai nelayan. Mereka bekerja sama antara buruh dan juragan, untuk memenuhi kebutuhan ekonomi.
Keadaan sosial di Desa Jatimalang berdasarkan kekeluargaan, agama, dan kekerabatan. pola hubungan sosial yang seperti ini menandakan bahwa penduduk Desa Jatimalang masih menganut pola masyarakat komunal, yaitu kesatuan masyarakat yang relatif kecil dan homogen ditandai oleh pembagian kerja yang minimal dan masih terikat kuat kepada tradisi. Dua golongan sosial utama yang dikenal pada masyarakat komunal adalah tokoh terkemuka dan penduduk biasa. Tokoh terkemuka di Desa Jatimalang mencakup pemuka agama, pejabat desa, tokoh terpelajar, dan orang kaya.
Kedudukan sosial pada kegiatan perekonomian di Desa Jatimalang dibedakan sbb:
·         Nelayan juragan: Nelayan pemilik perahu dan alat penangkap ikan. Nelayan ini memiliki tanah yang digarap pada waktu paceklik.
·         Nelayan pekerja, yaitu nelayan yang tidak memiliki alat produksi dan modal, tetapi memiliki tenaga yang dijual kepada nelayan juragan untuk membantu menjalankan usaha penangkapan ikan di laut. Nelayan ini disebut juga nelayan
penggarap atau sawi (awak perahu nelayan).
·         Nelayan pemilik merupakan nelayan yang kurang mampu. Nelayan ini hanya mempunyai perahu kecil untuk keperluan dirinya sendiri dan alat penangkap
ikan sederhana, karena itu disebut juga nelayan perorangan atau nelayan miskin.
 Link jurnal:


 


Selasa, 28 Oktober 2014

Allah Knows You're Tired








Udah baca tulisan di atas kan? Kita semua pasti pernah mengalami fase, dimana kita ngerasa lelah, capek, lagi berada di fase sulit, maunya ngeluh mulu. Kita pasti pernah mikir, kenapa Allah ngasih cobaan yg beraaatttt banget. Cobaan yg bikin kita ngerasa pengen give up, pengen skip ajadeh pokoknya. Pernah ga sih, kalian mikir “Kenapa sih dikasih cobaan yg berat banget, kenapa kok dikasih jalan kayak gini, kenapa ga sesuai sm keinginanku?”

Kalian tau kan kalo Allah itu sayang banget sm kita? Salah satu bentuk sayangnya itu lewat ujian yg diberikan ke kita. Sama kayak bentuk kasih sayang orang tua, terkadang orang tua melarang dan marah sama kita gara-gara hal tertentu. Itu semua mereka lakuin karena mereka gamau anaknya celaka, mereka gamau anaknya salah arah, karena orang tua sayang banget sama kita. Bentuk kasih sayang itu emang ga selalu indah, engga melulu kita dikasih apa yg kita mau. Sama kayak Allah, bentuk kasih sayangNya juga macam-macam. Salah satunya dengan ngasih cobaan ke hambanya. Saat hamba diberi cobaan, hamba itu sebenernya lagi diuji seberapa kuat imannya. Kalo pas lagi diuji hamba itu ttep bisa inget dan deket sm Allah, pasti Allah akan mengangkat derajatnya dan ditambah pahalanya. Tapi kalo diuji bawaannya marah-marah mulu, Allah gaakan ngangkat derajatnya. Makanya sebisa mungkin, ayo kita berhenti mengeluh. Ingat, Allah gaakan ngasih cobaan yg melebihi batas kemampuan hambaNya. Kalo kata temen aku ya, “Orang-orang yg diuji sm Allah itu orang yg spesial, yang derajatnya tinggi, mereka itu ksatria yg dicintai Allah” makanya ayo, sekarang diminimalkan ngeluhnya. Kan susah tuh kalo langsung hilang hobi suka ngeluhnya, jadi dikurangi dikit-dikitlah, diminimalkan hehe. Emang sih nulis atau ngomong itu ga segampang ngelakuin, Dinda jg masih belajar kok, kita sama-sama  belajar guys  . Kalo pas ada masalah, ngadu aja ke Allah, makin mendekatkan diri ke Allah, pasti bakal dibantu kok. Percaya aja kalo dibalik cobaan pasti ada hikmahnya, yakin kalo apa yg kita lakuin gaakan sia-sia. Kata temen aku lagi nih, bayangin aja kita lagi ada di pertandingan. Kan pasti banyak cobaannya tuh, nah kalo mau nyampe finish doang gampang. Tapi kalo mau nyampe finish sambil ngangkat piala itu yg luar biasa, butuh perjuangan ekstra keras. So, semangat terus guys! Complain less, pray more and hard work.

Have a good day :)